Ekonomi Indonesia diambang Krisis?

Mencermati berita ekonomi di media indonesia beberapa hari terakhir, masyarakat Indonesia sudah seharusnya waspada dan dapat mengambil pelajaran. Penurunan IHSG sampai 9,10% pada selasa, 22 Januari 2008 menjadi yang terparah sejak sejak kejadian bom bali pada tahun 2002.
Faktor utama jatuhnya IHSG di BEI ini adalah kekuatiran terjadinya resesi di Amerika Serikat akibat melambatnya pertumbuhan ekonomi di negara adidaya tersebut.
Presdir BEI menyatakan akan mengambil langkah pembekuan perdagangan saham jika kondisi sangat memaksa hal tersebut.
Nilai tukar Rupiah terhadap Dollar US sendiri sudah melemah dikisaran Rp.9500 per 1 Dollar US.

Masihkah kita harus tergantung terus dengan Amerika Serikat?

8 Responses

  1. Melihat update di kompas hari ini, yah kita doakan saja para Mentri dijajaran ekonomi dan yang terkait bisa segera mencari jalan keluar atas bergejolaknya ekonomi Indonesia akibat pengaruh AS ini.

    http://www.kompas.co.id/read.php?cnt=.xml.2008.01.22.12384058&channel=1&mn=15&idx=16

  2. Berikut update lanjutan dari media indonesia, dimana investor mulai alhkan investasi :

    Investor Lari ke Instrumen Jangka Pendek
    Penulis: Sopia Siregar
    JAKARTA–MEDIA: Anjloknya bursa saham termasuk di Indonesia, membuat investor insitusi berusaha meminimalkan kerugian dengan beralih ke instrumen jangka pendek, seperti pasar uang dan deposito. Sementara investor ritel disarankan untuk tidak panik, dan bermain jangka panjang melalui reksa dana.

    Ekonom Standard Chartered Fauzi Ichsan menjelaskan bursa global tidak akan pulih sepanjang The Fed belum tegas kapan menurunkan suku bunganya. Pasar sendiri meminta The Fed lebih cepat menurunkan suku bunga dari rencana di akhir Januari.

    “Diharapkan The Fed turunkan suku bunga minimal 50 basis poin dan itu dilakukan pekan ini juga ditindaklanjuti dengan penurunan selanjutnya,” ujar dia ketika dihubungi Media Indonesia, Selasa, (22/1).

    Sementara analis pasar uang Farial Anwar menilai saat ini investor pasar modal yang sebagian besar asing, memang akan beralih ke pasar uang, dengan memburu dolar AS. Hanya, untuk pasar uang pun, hanya profit jangka pendek yang bisa diambil, karena rupiah sudah mendekati level 9.500 per dolar AS.

    “Sebab jika rupiah tembus 9.500 per dolar AS, itu keterlaluan. Bisa-bisa terjadi panik tidak hanya di pasar modal, tapi juga pasar uang. Dampaknya akan terasa ke perekonomian,” tandas Farial.

    BI selama ini, menurut persepsi pasar tidak serius melakukan penguatan rupiah. Sebab rupiah satu-satunya mata uang yang nilainya terus terpuruk dibanding dolar AS, apa pun kondisinya.

    “Baik saat saham naik dan terjadi dana asing masuk, saat harga minyak mulai turun, saat dolar AS melemah terhadap mata uang dunia, rupiah anomali dan terus saja melemah,” urai Farial. (Pia/OL-06)

  3. Satuan Keamanan PBB Diterjunkan
    –> Selasa, 22 januari 2008 | 03:08 WIB Ancaman krisis di Amerika Serikat tampaknya sudah di depan mata. Memang tak ada yang tahu akan separah apa krisis tersebut.

    Namun, banyak pihak memperkirakan bentuk gejolak yang bakal terjadi akan menjelma sebagai perlambatan pertumbuhan ekonomi negara superpower ini.
    Tanggal 10 Januari 2008, Gubernur The Federal Reserve Ben Bernanke sudah mengonfirmasikan kepada senat bahwa perlambatan ekonomi negara itu telah semakin mendekat.

    Bernanke menggambarkan perekonomian AS akan memburuk pada 2008 akibat gejolak di pasar perumahan, kenaikan harga minyak, dan melemahnya pasar saham.
    Para ekonom dari Goldman Sach mendefinisikannya sebagai tanda-tanda awal terjadinya resesi ekonomi di AS. Tinggal menunggu waktunya saja.

    Di dalam negeri, kalangan pemerintah sebenarnya sudah mulai sadar pada kondisi itu. Jauh- jauh hari, pada pertengahan November 2007, Menteri Koordinator Perekonomian Boediono kerap menjelaskan bakal adanya gejolak perekonomian di AS pada 2008.
    Namun, Boediono masih percaya tak akan ada resesi, hanya perlambatan pertumbuhan ekonomi. Perlambatan ekonomi bisa berarti banyak hal. Salah satu yang dipercaya akan terjadi adalah melemahnya daya beli penduduk Amerika.

    Apa dampaknya bagi Indonesia? Ekspor Indonesia akan terpengaruh, industri dalam negeri akan meradang, yang pada ujungnya akan meningkatkan angka pengangguran.
    Jika permintaan luar negeri berkurang, industri akan melakukan penyesuaian, antara lain mengurangi produksi. Jika produksi dikurangi, bisa jadi tenaga kerja pun akan dikurangi. Penganggur akan lebih banyak lagi, kemiskinan bisa melonjak. Artinya, jika AS sakit, Indonesia bisa langsung terkena getahnya.

    Coba tengok angka-angka ekspor nonmigas Indonesia ke AS selama ini yang tercatat di Badan Pusat Statistik dan diolah kembali oleh Departemen Perdagangan.
    Sekilas terlihat betapa produk Indonesia sangat bergantung pada pasar Amerika karena ekspor Indonesia ke negara itu menduduki peringkat kedua terbesar setelah Jepang.
    Ekspor nonmigas Indonesia ke AS meningkat dari 7,17 miliar dollar AS pada 2002 menjadi 10,68 miliar dollar AS pada 2006 atau meningkat 11,74 persen.

    Selama Januari-Agustus 2007, ekspor ke AS sudah mencapai 7,48 miliar dollar AS atau meningkat 5,14 persen daripada periode yang sama tahun 2006.
    Itu artinya, peran ekspor ke AS terhadap total ekspor nonmigas Indonesia mencapai 12,45 persen, setingkat di bawah ekspor ke Jepang yang mencapai 15,36 persen.
    Pemerintah menyarankan para eksportir agar secepatnya mencari pasar baru di luar AS. Arahkan ke pasar Asia, terutama negara-negara berkembangnya, yang diperkirakan perekonomiannya masih bisa tumbuh.

    Coba lihat inflasi
    Di lihat dari sisi harga barang, Indonesia pun belum aman dari potensi tekanan inflasi. Kepala Badan Kebijakan Fiskal Departemen Keuangan Anggito Abimanyu dalam sebuah tulisannya mengungkapkan, adanya beberapa risiko yang mungkin menyebabkan tekanan terhadap laju inflasi tahun 2008.
    Risiko itu, pertama, proses konsolidasi pasar finansial global terkait dampak krisis subprime mortgage masih belum dapat dipastikan mereda. Kedua, risiko terkait kenaikan harga minyak dunia.

    Ketiga, potensi peningkatan permintaan konsumsi minyak domestik di atas asumsi, terutama yang dipicu tingginya disparitas harga BBM bersubsidi dengan BBM nonsubsidi maupun harga BBM di negara tetangga.

    Keempat, kemampuan produksi minyak domestik yang tidak sesuai target. Kelima, persepsi pelaku ekonomi terhadap prospek kesinambungan fiskal dan prospek perekonomian secara keseluruhan terkait dampak kenaikan harga minyak dunia.
    Kelima risiko itu merupakan ancaman yang bisa membebani pencapaian target inflasi pada 2008 yang ditetapkan 5 persen dengan deviasi 1 persen. Namun, itu ada obat pencegahnya.
    Obat pencegah laju inflasi itu pada dasarnya ada lima. Pertama, kemampuan dalam menjaga keseimbangan permintaan dan pasokan (output gap). Kedua, menjaga kestabilan nilai tukar rupiah. Ketiga, menjaga agar ekspektasi inflasi berada pada level yang rendah. Keempat, meminimalisasikan dampak administered price. Kelima, menjaga kecukupan pasokan dan kelancaran distribusi volatile food.

    Obat ini hanya bisa diterapkan jika pemerintah dan Bank Indonesia benar-benar satu kata dan bekerja sama menekan laju inflasi.

    Ingat, beberapa saat setelah Forum Pengendali Inflasi yang dikomandani Menko Perekonomian dibentuk 3 Januari 2008 (termasuk menetapkan target inflasi tahun ini 5 plus minus satu), BI malah melihat ada kemungkinan inflasi melonjak di atas 6 persen pada akhir 2008.

    Inflasi harus menjadi perhatian utama karena merupakan potret yang terjadi di tengah masyarakat. Semakin tinggi laju inflasi, maka semakin rendah kesejahteraan masyarakat karena nilai setiap sen uang yang dipegang orang terus menurun.
    Daya beli melorot. Jadi, jika ekonomi dunia meradang, orang miskin Indonesia pun bisa jadi semakin miskin. (Orin Basuki)

  4. Wah, wah, seperti yang sudah gue duga sebelumnya. Bakal ada pengurasan dana APBN.

    http://www.kompas.co.id/read.php?cnt=.xml.2008.01.31.13172656&channel=1&mn=15&idx=17

  5. Berikut ini tambahan info pengurasan APBN RI 2008 :

    Senin, 21 April 2008 | 01:30 WIB

    Jakarta, Kompas – Harga minyak dunia yang kian tinggi memberikan tekanan semakin berat terhadap APBN. Tekanan lain datang dari konsumsi bahan bakar minyak tahun ini yang diperkirakan akan melampaui kuota yang dipatok dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Perubahan 2008.

    Pada Jumat akhir pekan lalu, kontrak berjangka minyak di bursa New York jenis light sweet untuk pengiriman Mei naik 1,83 dollar AS per barrel menjadi 116,69 dollar AS per barrel. Pada pertengahan perdagangan bahkan sempat menyentuh 117 dollar AS per barrel.

    Harga minyak dunia melonjak tajam lebih karena spekulasi pasar terjadi gangguan pasokan minyak dunia menyusul aksi pemberontak yang menyerang pipa penyalur minyak mentah milik kelompok Shell di Nigeria, Jumat. Nigeria memproduksi 2,1 juta barrel minyak perhari. Setengah dari produksi dihasilkan kelompok Shell.

    Data Bagian Niaga dan Pemasaran Niaga PT Pertamina menunjukkan bahwa sampai Maret 2008, konsumsi premium sudah mencapai 4,58 juta kiloliter, lebih tinggi dari ketetapan BBM subsidi yang sebesar 4,24 juta kiloliter selama tiga bulan. Dalam satu tahun, APBN-P menetapkan BBM bersubsidi sebanyak 16,976 juta kiloliter.

    Sedangkan konsumsi solar sampai Maret sudah mencapai 2,8 juta kiloliter. Angka ini berarti konsumsi solar sudah melebihi target konsumsi BBM subdisi yang ditetapkan APBN-P sebesar 10 juta kiloliter setahun, atau 2,49 juta kiloliter selama tiga bulan.

    Konsumsi minyak tanah juga melebihi kuota, antara lain karena keterlambatan program konversi minyak tanah ke elpiji. Hingga Maret, realisasi distribusi paket elpiji baru sekitar 17 persen.

    Konsumsi BBM akan semakin meningkat di akhir tahun terutama menjelang puasa dan Lebaran.

    ”Konsumsi naik seiring dengan kenaikan jumlah kendaraan bermotor yang diperkirakan mencapai 21 persen. Tingginya harga Pertamax dan Pertamax plus mendorong konsumen beralih menggunakan BBM bersubsidi. Kalau kita tidak segera melakukan pembatasan, diperkirakan kuota akan terlewati,” ujar anggota Komite Badan Pengatur Hilir Migas Adi Subagyo, Minggu (20/4), di Jakarta.

    APBN-P 2008 membatasi alokasi subsidi BBM hingga Rp 143,29 triliun. Angka ini menggunakan asumsi basis harga minyak mentah Indonesia sebesar 100 dollar AS per barrel dan volume BBM bersubsidi sebanyak 37 juta kiloliter. DPR telah memberi tiga opsi kepada pemerintah untuk mengikuti alokasi subsidi, di antaranya pembatasan pemakaian dan kenaikan harga.

    Belum perbanyak produksi

    Di tengah tingginya harga minyak, produsen-produsen minyak yang tergabung dalam Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) menyatakan, belum akan meningkatkan produksinya untuk membanjiri pasar minyak.

    Presiden OPEC Chakib Khelil mengatakan, pasar minyak masih seimbang antara permintaan dengan penawaran.

    ”OPEC tidak perlu meningkatkan produksinya sekarang. Setiap kenaikan produksi minyak tidak akan mempengaruhi harga karena ada keseimbangan antara permintaan dan persediaan. Kami meningkatkan produksi tahun lalu dan harga terus naik. Jika kami menaikkan harga, kami tidak akan mendapatkan pembeli yang akan membeli kelebihan produksi itu,” ujarnya.

    Khelil mengatakan juga, ke-13 anggota OPEC memiliki kemampuan untuk meningkatkan produksi hingga 2 juta barrel per hari. Saat ini kapasitas produksi anggota OPEC sebesar 29,67 juta barrel per hari.

    ”Kebanyakan peningkatan produksi akan dihasilkan oleh Saudi Arabia yang memiliki kemampuan untuk meningkatkan produksinya. Negara lain seperti Aljazair, Libya, Venezuela dan Nigeria juga dapat menyumbangkan kenaikan,” ujarnya.

    Khelil juga mengatakan harga minyak terkait dengan krisis di AS serta penurunan nilai tukar dollar AS.

    ”Ketika dollar AS turun 1 persen, harga minyak akan melonjak 4 dollar AS per barrel,” katanya. Ia menambahkan, jika perekonomian AS membaik pada akhir tahun ini atau awal tahun depan, akan dapat menurunkan harga minyak.

    Sementara itu, Arab Saudi yang merupakan eksportir minyak terbesar di dunia mengatakan, tidak memiliki rencana untuk menaikkan kapasitas produksinya.

    Menteri Perminyakan Arab Saudi Ali Naimi mengatakan, ia percaya perkembangan energi alternatif seperti biofuel akan membuat Saudi mengerem produksinya untuk satu dekade, setelah 2009.

    Saudi diharapkan meningkatkan produksinya hingga mencapai 12,5 juta barrel per hari pada tahun 2009, naik 11 persen dari kapasitas saat ini yang sebesar 11,3 persen.

    Pejabat Menteri Perminyak Kuwait Mohammad al-Olaim menegaskan, faktor permintaan dan penawaran bukan penyebab dari haiknya harga minyak dunia. level cadangan minyak dunia saat ini tidak berpengaruh pada harga minyak dunia,” ujar Al-Olaim di Roma. Fundamental pasar tidak mempengaruhi harga.

    Terlalu rendah

    Sementara itu, presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad mengatakan, harga minyak sebesar 115 dollar AS per barrel masih terlalu rendah.

    ”Harga minyak sebesar 115 dollar AS per barrel saat ini sangat menipu. Minyak adalah komoditas yang strategis dan harus menemukan harga wajarnya,” kata Ahmadinejad.

    Ahmadinejad mengatakan, penurunan tajam nilai tukar dollar AS merupakan salah satu faktor kenaikan harga minyak. ”Dollar AS bukanlah uang, mereka hanya mencetak segepok kertas yang diedarkan ke seluruh dunia tanpa didukung oleh komoditas,” ujarnya. (Dot/AFP/AP/Reuters/joe)

  6. Presiden Yudhoyono Menyerah?
    Ditulis oleh : Anni Iwasaki, Presiden Pusat Studi Jepang untuk Kemajuan Indonesia (Pusjuki)

    Dalam menghadapi kelangkaan kebutuhan hidup dan harga-harga yang tidak terkendali, beberapa waktu lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (Yudhoyono), diberitakan akan menulis surat kepada Sekjen PBB agar lembaga dunia itu mengantisipasi kenaikan harga minyak dan pangan di negara-negara berkembang, khususnya Indonesia.

    Pengibaran bendera putih Presiden berupa surat kepada Sekjen PBB sekaligus mengandung arti ketidakberdayaan pemerintah menghadapi instabilitas global yang melanda rakyat dalam keprihatinan yang semakin panjang. Bukan lagi isu politik eksploitasi kemiskinan yang pernah dikecam Presiden Yudhoyono sendiri, melainkan kenyataan yang diakui bahwa pemerintahannya gagal mengisi era reformasi membebaskan rakyat dari kelaparan fisik, psikis, sosial, dan spiritual, warisan dari Orde Baru.

    Siapakah PBB?

    Curhat kepada PBB tidak beda dengan mengadukan nasib kepada negara-negara penyandang dana tertinggi PBB; AS sebesar 22%, Jepang 16,6%, dan Jerman, Inggris, Prancis, Italia, Kanada dan seterusnya (2007). Padahal, kedua negara dan koalisinya itu sudah memberi bantuan sejak Indonesia terjerembab dalam krisis moneter 1997. Mereka juga membantu saat terjadi bencana alam bertubi-tubi, gempa bumi dan tsunami di Aceh hingga gempa bumi yang masih mengguncang Bengkulu dan wilayah di Indonesia Timur. Kendati keberadaan mereka pernah dicurigai sebagai biang pemiskinan rakyat Indonesia, negara-negara ini adalah yang paling proaktif memberikan dana bantuan darurat, menyosialisasikan program pembangunan dari PBB; membangun masyarakat teknologi informasi disaster risk reduction dan global warming, sekaligus mengusahakan dana hibah untuk keperluan studi itu, dana pinjaman lunak untuk proyek percontohannya dengan bunga lebih kecil ketimbang bunga pinjaman yang ditentukan BI untuk rakyat.

    Berakhirnya pesta pora KKN Orde Baru dan semakin mantapnya demokrasi politik dan transparansi di Indonesia adalah harapan baru untuk AS, Jepang, Uni Eropa, Timur Tengah blok Arab Saudi bersama-sama dengan Indonesia bermaksud menjadikan Indonesia sebagai pusat ASEAN, dan stimulator pertumbuhan ekonomi sipil internasional untuk mencapai millenium development goal. Namun, gaung itu tidak tertangkap oleh pemerintah Indonesia.

    Pada akhirnya, para investor berpaling ke negara lain termasuk China sehingga iklim investasi Indonesia 2002-2006 nyaris minus. Jika pun ada perbaikan dari investasi Jepang jumlahnya hanya US$1 miliaran. Itu pun harus berpacu dengan kerugian ekonomi yang diakibatkan bencana alam, Rp110 triliun atau Rp15,8% dari APBN 2007 ditambah lagi dengan terus berlangsungnya KKN, krisis sosial, berbagai penyakit menular, krisis ekonomi, krisis lingkungan, dan krisis tapal batas dan lain sebagainya.

    Menlu Hassan Wirajuda dalam refleksi Departemen Luar Negeri Indonesia di akhir 2006 menyatakan, untuk pertama kalinya sepanjang sejarah diplomasi luar negeri dalam setahun dapat menjadi anggota di sembilan organ penting dunia dengan dukungan suara meyakinkan. Namun sayang, peluang diplomasi yang berhasil diraih secara signifikan itu belum dimanfaatkan.

    Menurut dia, Indonesia membangun hubungan dekat dengan negara lain secara politis, dan juga ingin agar kedekatan politis itu dapat diterjemahkan ke dalam menjadi peluang-peluang hubungan ekonomi. Peluang yang sudah dibuka itu, kalau tidak digunakan, justru akan meninggalkan kita karena negara lain pun berhubungan dengan sejumlah negara lainnya.

    Pemerintahan Yudhoyono-Kalla tidak sensitif terhadap geopolitik dan peta ekonomi internasional. Selain dana penanggulangan darurat, pemerintah RI tidak memiliki dana membangun negerinya yang bisa menghasilkan return secara berkesinambungan. Pada 2015, akan terjadi ledakan penduduk jumlahnya mencapai 300 juta jiwa lebih. Hingga kini, Indonesia tidak memiliki rencana induk program pembangunan nasional. Bukannya mengakomodasi kepentingan AS, Uni Eropa dan Jepang, Indonesia malah menyeberang ke negara-negara rival dari blok Barat. Lalu, bagaimana kira-kira, Sekjen PBB nanti bisa memberikan solusi terhadap permasalahan yang akan dilayangkan Presiden Yudhoyono?

    (sumber : Media Indonesia Online)

  7. PDI-P: Presiden SBY Langgar Janji Kampanye

    JAKARTA, RABU – PDI Perjuangan menganggap pemerintah sedang menjilat ludahnya sendiri terkait rencana kenaikan harga BBM. Pada kenaikkan harga BBM pada 2005 lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sudah menyatakan, tidak akan ada lagi kenaikan harga BBM hingga akhir masa pemerintahahan.

    Rencana ini, menurut salah satu Ketua DPP PDI Perjuangan Sutradara Ginting, sebagai bentuk kepanikan pemerintah yang tak mampu melakukakan kebijakan yang pro rakyat di bidang perekonomian.

    “Rencana kenaikkan BBM ini ibarat pemerintah menjilat ludahnya sendiri. Dulu janjinya Presiden SBY nggak mau naikin lagi, sekarang kok malah lain? Dan sebetulnya, masih ada beberapa opsi lain tanpa harus menaikkan BBM. Kenapa tidak melakukan program penghematan,” kata Sutradara Ginting kepada Persda Network, Selasa (6/5).

    “Masih ada pilihan lain. Yang mau ditutupi subsidi itu kan sebesar Rp 30 triliun, nah peluang menutupi itu masih bisa tanpa harus menaikkan BBM. Lakukan penghematan bisa, menunda beberapa proyek yang tidak terlalu penting bisa. Nah, kenapa tidak dilakukan saja dulu. Rencana kenaikkan BBM ini hanyalah jalan pintas pemerintah saja,” katanya lagi.

    PDI Perjuangan tetap mengganggap waktu sekarang ini bukanlah waktu yang tepat untuk mewujudkan niat pemerintah menaikkan harga BBM. Dijelaskan, hingga saat ini pemerintah tidak memanfaatkan secara sungguh-sungguh potensi kilang minyak yang ada.

    “Tapi anehnya, Indonesia sebagai produsen minyak tapi ketika harga minyak naik, kok malah menderita? Kita ini importir minyak, lalu kenapa sih pemerintah tidak bisa menaikkan produksi minyak. Jangan-jangan sikap pemerintah ini adalah bagian dari skenario global yang hanya menjerat kita saja. Wong program pemerintah dalam melakukan penghematan sampai saat ini nggak jalan-jalan kok,” tegas Sutradara Ginting.

    “Rakyat saat ini masih menderitalah terkait dampak kenaikan BBM tahun 2005 lalu. Angka kemiskinan juga makin bertambah saja. Coba tanya rakyatnya, apakah saat ini tambah menderita atau tidak? Saya yakin, tambah menderita. Harusnya, cari alternatif lain tanpa harus memberatkan perekonomian rakyat. Begitu seharusnya,” cetusnya.

    Sutradara Ginting kemudian mengingatkan kembali, pada awal kampanye Pilpres 2004, SBY berjanji tidak akan menaikkan harga BBM. Akan tetapi, jelas Ginting, sudah beberapa kali janji itu dilanggar. “Dulu bilang sampai 2009 tidak akan naikkan harga BBM. Buktinya? Kalau rakyat makin dibuat menderita lagi karena kenaikkan BBM ini, menurut saya sudah sangat keterlaluan sekali,” tegasnya. (Persda Network/yat)

    sumber : http://www.kompas.com/index.php/read/xml/2008/05/07/01224658/pdi-p.presiden.sby.langgar.janji.kampanye

  8. Banjarbaru, Kalimantan Selatan, 31 Mei 2008

    Matinya Ilmu Administrasi dan Manajemen
    (Satu Sebab Krisis Indonesia)
    Oleh Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. C(OMPETENCY) = I(nstrument) . s(cience). m(otivation of Maslow-Zain) (Hukum XV Total Qinimain Zain).

    INDONESIA, sejak ambruk krisis Mei 1998 kehidupan ekonomi masyarakat terasa tetap buruk saja. Lalu, mengapa demikian sulit memahami dan mengatasi krisis ini?

    Sebab suatu masalah selalu kompleks, namun selalu ada beberapa akar masalah utamanya. Dan, saya merumuskan (2000) bahwa kemampuan usaha seseorang dan organisasi (juga perusahaan, departemen, dan sebuah negara) memahami dan mengatasi krisis apa pun adalah paduan kualitas nilai relatif dari motivasi, alat (teknologi) dan (sistem) ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Di sini, hanya menyoroti salah satunya, yaitu ilmu pengetahuan, system ilmu pengetahuan. Pokok bahasan itu demikian penting, yang dapat diketahui dalam pembicaraan apa pun, selalu dikatakan dan ditekankan dalam berbagai forum atau kesempatan membahas apa pun bahwa untuk mengelola apa pun agar baik dan obyektif harus berdasar pada sebuah sistem, sistem ilmu pengetahuan. Baik untuk usaha khusus bidang pertanian, manufaktur, teknik, keuangan, pemasaran, pelayanan, komputerisasi, penelitian, sumber daya manusia dan kreativitas, atau lebih luas bidang hukum, ekonomi, politik, budaya, pertahanan, keamanan dan pendidikan. Kemudian, apa definisi sesungguhnya sebuah sistem, sistem ilmu pengetahuan itu? Menjawabnya mau tidak mau menelusur arti ilmu pengetahuan itu sendiri.

    Ilmu pengetahuan atau science berasal dari kata Latin scientia berarti pengetahuan, berasal dari kata kerja scire artinya mempelajari atau mengetahui (to learn, to know). Sampai abad XVII, kata science diartikan sebagai apa saja yang harus dipelajari oleh seseorang misalnya menjahit atau menunggang kuda. Kemudian, setelah abad XVII, pengertian diperhalus mengacu pada segenap pengetahuan yang teratur (systematic knowledge). Kemudian dari pengertian science sebagai segenap pengetahuan yang teratur lahir cakupan sebagai ilmu eksakta atau alami (natural science) (The Liang Gie, 2001), sedang (ilmu) pengetahuan sosial paradigma lama krisis karena belum memenuhi syarat ilmiah sebuah ilmu pengetahuan. Dan, bukti nyata masalah, ini kutipan beberapa buku pegangan belajar dan mengajar universitas besar (yang malah dicetak berulang-ulang):

    Contoh, “umumnya dan terutama dalam ilmu-ilmu eksakta dianggap bahwa ilmu pengetahuan disusun dan diatur sekitar hukum-hukum umum yang telah dibuktikan kebenarannya secara empiris (berdasarkan pengalaman). Menemukan hukum-hukum ilmiah inilah yang merupakan tujuan dari penelitian ilmiah. Kalau definisi yang tersebut di atas dipakai sebagai patokan, maka ilmu politik serta ilmu-ilmu sosial lainnya tidak atau belum memenuhi syarat, oleh karena sampai sekarang belum menemukan hukum-hukum ilmiah itu” (Miriam Budiarjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, 1982:4, PT Gramedia, cetakan VII, Jakarta). Juga, “diskusi secara tertulis dalam bidang manajemen, baru dimulai tahun 1900. Sebelumnya, hampir dapat dikatakan belum ada kupasan-kupasan secara tertulis dibidang manajemen. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa manajemen sebagai bidang ilmu pengetahuan, merupakan suatu ilmu pengetahuan yang masih muda. Keadaan demikian ini menyebabkan masih ada orang yang segan mengakuinya sebagai ilmu pengetahuan” (M. Manullang, Dasar-Dasar Manajemen, 2005:19, Gajah Mada University Press, cetakan kedelapan belas, Yogyakarta).
    Kemudian, “ilmu pengetahuan memiliki beberapa tahap perkembangannya yaitu tahap klasifikasi, lalu tahap komparasi dan kemudian tahap kuantifikasi. Tahap Kuantifikasi, yaitu tahap di mana ilmu pengetahuan tersebut dalam tahap memperhitungkan kematangannya. Dalam tahap ini sudah dapat diukur keberadaannya baik secara kuantitas maupun secara kualitas. Hanya saja ilmu-ilmu sosial umumnya terbelakang relatif dan sulit diukur dibanding dengan ilmu-ilmu eksakta, karena sampai saat ini baru sosiologi yang mengukuhkan keberadaannya ada tahap ini” (Inu Kencana Syafiie, Pengantar Ilmu Pemerintahan, 2005:18-19, PT Refika Aditama, cetakan ketiga, Bandung).

    Lebih jauh, Sondang P. Siagian dalam Filsafat Administrasi (1990:23-25, cetakan ke-21, Jakarta), sangat jelas menggambarkan fenomena ini dalam tahap perkembangan (pertama sampai empat) ilmu administrasi dan manajemen, yang disempurnakan dengan (r)evolusi paradigma TOTAL QINIMAIN ZAINn (TQZ): The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority, TQZ Administration and Management Scientific System of Science (2000): Pertama, TQO Tahap Survival (1886-1930). Lahirnya ilmu administrasi dan manajemen karena tahun itu lahir gerakan manajemen ilmiah. Para ahli menspesialisasikan diri bidang ini berjuang diakui sebagai cabang ilmu pengetahuan. Kedua, TQC Tahap Consolidation (1930-1945). Tahap ini dilakukan penyempurnaan prinsip sehingga kebenarannya tidak terbantah. Gelar sarjana bidang ini diberikan lembaga pendidikan tinggi. Ketiga, TQS Tahap Human Relation (1945-1959). Tahap ini dirumuskan prinsip yang teruji kebenarannya, perhatian beralih pada faktor manusia serta hubungan formal dan informal di tingkat organisasi. Keempat, TQI Tahap Behavioral (1959-2000). Tahap ini peran tingkah-laku manusia mencapai tujuan menentukan dan penelitian dipusatkan dalam hal kerja. Kemudian, Sondang P. Siagian menduga, tahap ini berakhir dan ilmu administrasi dan manajemen akan memasuki tahap matematika, didasarkan gejala penemuan alat modern komputer dalam pengolahan data. (Yang ternyata benar dan saya penuhi, meski penekanan pada sistem ilmiah ilmu pengetahuan, bukan komputer). Kelima, TQT Tahap Scientific System (2000-Sekarang). Tahap setelah tercapai ilmu sosial (tercakup pula administrasi dan manajemen) secara sistem ilmiah dengan ditetapkan kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukumnya, (sehingga ilmu pengetahuan sosial sejajar dengan ilmu pengetahuan eksakta). (Contoh, dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru milenium III, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas dan D(ay) atau Hari Kerja – sistem ZQD, padanan m(eter), k(ilogram) dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta – sistem mks. Paradigma (ilmu) pengetahuan sosial lama hanya ada skala Rensis A Likert, itu pun tanpa satuan). (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).

    Bandingkan, fenomena serupa juga terjadi saat (ilmu) pengetahuan eksakta krisis paradigma. Lihat keluhan Nicolas Copernicus dalam The Copernican Revolution (1957:138), Albert Einstein dalam Albert Einstein: Philosopher-Scientist (1949:45), atau Wolfgang Pauli dalam A Memorial Volume to Wolfgang Pauli (1960:22, 25-26).
    Inilah salah satu akar masalah krisis Indonesia (juga seluruh manusia untuk memahami kehidupan dan semesta). Paradigma lama (ilmu) pengetahuan sosial mengalami krisis (matinya ilmu administrasi dan manajemen). Artiya, adalah tidak mungkin seseorang dan organisasi (termasuk perusahaan, departemen, dan sebuah negara) pun mampu memahami, mengatasi, dan menjelaskan sebuah fenomena krisis usaha apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistem-(ilmu pengetahuan)nya.

    PEKERJAAN dengan tangan telanjang maupun dengan nalar, jika dibiarkan tanpa alat bantu, membuat manusia tidak bisa berbuat banyak (Francis Bacon).

    BAGAIMANA strategi Anda?

    *) Ahli strategi, tinggal di Banjarbaru, email: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com).

    THANK you very much for Dr Heidi Prozesky – SASA (South African Sociological Association) secretary about Total Qinimain Zain: The New Paradigm – The (R)Evolution of Social Science for the Higher Education and Science Studies sessions of the SASA Conference 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: