“Nyigar”, Gaya Itu Nikmat, “Cuy”…

Bisnis gaya-gaya-an atau sebutlah gaya hidup selalu cerdik menggelitik hasrat calon ”korban”-nya. Pasar senantiasa dipancing untuk tiru-meniru. Suatu gaya hidup yang awalnya mungkin hanya bisa dijangkau pasar teratas, biasanya lama-kelamaan diiming-imingkan pula ke pasar kebanyakan. Kali ini jualannya adalah cerutu.

Dulu, cigar lounge atau bilik untuk membeli dan menikmati cerutu umumnya hanya bertempat di hotel-hotel berbintang lima. Hanya kalangan yang sangat terbatas saja yang boleh jadi cukup pede untuk mendekati dan memasuki tempat semacam ini.

Penempatan lounge seperti itu saja sudah secara implisit menciptakan jarak psikologis yang kentara antara pasar kebanyakan yang ngepop dan pasar yang sangat eksklusif.

Beberapa tahun belakangan, jarak itu mulai dikikis seiring itikad pelaku bisnis gaya hidup untuk merengkuh pasar yang lebih luas. Cigar lounge mulai muncul di tempat-tempat yang lebih ngepop untuk juga menyasar pasar kelas menengah. Tengok saja di Cilandak Town Square alias Citos di Jakarta Selatan.

Di tempat favorit anak muda nongkrong itu ada Connoisseur Wine and Cigar Lounge yang tampil lebih akrab. Dalam lounge yang berdinding muka dari kaca itu, para penikmat cerutu seolah seperti pajangan hidup dalam etalase gaya hidup yang efektif memancing pengunjung yang berseliweran di Citos untuk ikut-ikutan nyigar (mengisap cigar).

Istilah itu—seperti halnya ngewine—terbentuk begitu saja. Istilah semacam itu mulai lazim terdengar di antara celotehan kaum urban di Jakarta.

Lanny Permadi dari Connoisseur mengakui, lokasi lounge-nya itu cukup strategis dan efektif untuk menularkan gaya hidup nyigar. Sebab, tempat seperti Citos merupakan tempat yang pas bagi orang-orang untuk melihat-lihat dan dilihat. Tentunya akan beda jika nyigar di cigar lounge di hotel berbintang lima yang kecil kemungkinannya jadi tontonan lebih massal.

Hendra (21), misalnya, mengaku awalnya tertarik nyigar setelah berjalan-jalan di Citos dan melihat orang-orang yang nongkrong di Connoisseur tengah asyik nyigar. Menyaksikan itu, mahasiswa di Universitas Bina Nusantara ini pun tertarik. Dia pun lantas teringat tokoh-tokoh mafia di film-film Hollywood yang tampil perlente ngemut cerutu.

”Kelihatannya keren gitu…. Mengisap cerutu itu pembawaannya beda, kelihatan lebih berkelas,” ungkap Hendra.

Irfan (24), seorang disc jockey alias DJ, juga berpendapat serupa. Kesan berkelas pada cerutu yang membuatnya juga tertarik untuk mulai menikmati cerutu sejak dua tahun lalu.

”Saya yakin bakal jadi tren deh di Jakarta pada tahun-tahun mendatang. Sudah kelihatan sejak tahun lalu, kok. Apa-apa yang gaya kan cepat diserap anak muda biasanya,” kata Irfan.

Menurut Irfan, tren nyigar merupakan dampak ikutan dari tren minum anggur (wine) di kalangan muda sejak beberapa tahun lalu. Sebab, wine lounge yang marak muncul di berbagai sudut Ibu Kota juga menyertakan cerutu dalam dagangannya.

Gejala pasar dari kalangan muda kelas menengah, yang mudah dipengaruhi itu, juga diakui Lanny. ”Kelas menengah cenderung mudah dan cepat menyerap gaya hidup. Terutama seperti eksekutif muda yang mulai ingin eksis. Karena itu, kami serius menggarap pasar muda untuk cigar ini,” kata Lanny.

Cigar lounge lainnya yang tampil di lokasi ngepop ada di Plaza Senayan, yaitu Mojito Cocktails, Wine, and Cigar Lounge. Lokasinya yang tepat berdampingan dengan arena bermain boling tentu efektif menjerat pasar kalangan muda.

Nama Mojito itu sendiri merupakan jenis cocktail khas Kuba, negeri yang teramat identik dengan cerutu dan asal cerutu berkualitas. Mojito standar biasanya campuran dari rum, lime juice, daun mint, air soda, dan potongan jeruk limau. Di kelab ini, mojito dalam berbagai variasi menjadi minuman andalan.

Anggun, staf di Mojito, mengatakan, lokasi Mojito tersebut memang menjadi lebih mudah diakses kalangan muda, bahkan abege usia belasan tahun.

”Sering juga kalau siang, anak-anak SMA pulang sekolah nyigar di sini,” tutur Anggun.

Bahkan, kadang kala anak-anak abege itu membeli satu cerutu untuk diisap bareng bergiliran. Ketika satu cerutu tak habis diisap, cerutu itu malah dibelah dan diburaikan isinya untuk sekadar diremas-remas. Untungnya cerutu yang dibeli harganya hanya puluhan ribu rupiah saja.

”Tetapi kadang mereka minta cerutu Kuba juga lho, biar kayak mafia katanya. Mereka sebenarnya enggak dapat nikmatnya nyigar, kan yang penting gaya cuy,” celoteh Dinie, staf Mojito.

Harga terjangkau

Selain faktor lokasi, memancing pasar muda kelas menengah juga ditentukan oleh ketersediaan cerutu-cerutu yang harganya relatif terjangkau kantong mereka.

Biasanya, cerutu diulas habis seperti halnya benda itu ingin diulas, yaitu dalam atmosfer yang serba berkelas. Cerutu senantiasa diidentikkan dengan kemapanan, yang lazimnya dicapai dalam proses waktu yang tak sekejap.

Maklum, satu batang cerutu saja seharga ratusan sampai jutaan rupiah. Tak heran, penikmat cerutu didominasi oleh kalangan berumur dan tentunya berkelebihan materi. Kebiasaan itu disikapi sebagai bagian dari ritual penghargaan terhadap pencapaian duniawi mereka.

Namun, kesan berkelas dari cerutu itu sah-sah saja dibuat lebih ngepop dalam dunia konsumsi. Toh, hal itu bermanfaat pada tingkat pemasaran. Selain itu, dalam dunia konsumsi, mengader konsumen baru menjadi penting. Dengan demikian, pada saat konsumen itu telah pada tahap lebih mapan, dia telah terdidik seleranya. Selanjutnya, selera itu menggiringnya pada pilihan produk premium yang lebih mahal.

Hal itulah yang diharapkan pelaku bisnis gaya hidup. Lanny menuturkan, jika seseorang sejak muda sudah mengenal cerutu—meskipun belum yang berkualitas premium—pada akhirnya ketika di usia tua dan mapan, dia akan mengonsumsi cerutu yang berkualitas premium dan mahal.

Untuk itulah di Connoisseur tersedia pula cerutu-cerutu dengan harga yang lebih terjangkau. Andre, staf di Connoisseur, menyebutkan, cerutu yang tersedia mulai seharga empat puluhan ribu sampai sekitar tiga ratus ribu rupiah.

Stroberi

Para pemula umumnya mencoba cerutu-cerutu yang berkategori ringan. Mereka pun pada awalnya meminta arahan dari staf di kafe, mulai dari cara menyalakan cerutu sampai cara mengisap.

”Jadi, karyawan kami juga harus pandai-pandai memberi semacam kursus nyigar singkat untuk pemula,” imbuh Lanny.

Baik Connoisseur maupun Mojito menyediakan cerutu asal Kuba dengan harga Rp 200.000 sampai Rp 300.000 per batangnya. Tersedia pula cerutu dari negara-negara lain seperti Belanda, Dominika, sampai Swiss.

Cerutu buatan Indonesia pun turut dijual, seperti keluaran Wismilak dan Djarum yang memakai merek Dos Hermanos. Namun, cerutu asal Indonesia ini justru kurang disambut kalangan muda yang mulai doyan nyigar meski harganya cukup terjangkau.

”Mereka maunya tetap yang impor, tetapi murah. Mungkin kesannya lebih gaya barangkali,” ujar Dinie yang kerap mengamati perilaku anak-anak muda yang tengah nyigar di Mojito.

Sementara di Connoisseur, cerutu buatan Indonesia bikinan Djarum digemari penikmat cerutu dari kalangan ekspatriat.

Di Mojito bahkan tersedia pula cerutu berukuran langsing yang diperuntukkan untuk pasar perempuan. Merek Tatiana, misalnya, ukurannya sedikit lebih gemuk dan lebih panjang dibandingkan rokok. Harganya pun cukup Rp 22.500 per batang.

Serupa Tatiana, di Connoisseur tersedia cerutu langsing bermerek Tycoon. Bahkan, cerutu ini juga berfilter. ”Ini buat perempuan yang baru mulai nyigar,” kata Andre.

Ciri khas lain penikmat cerutu yang ngepop adalah menggemari cerutu yang beraneka rasa serupa permen. Mulai dari stroberi, peach, vanila, cokelat, sampai kopi.

Jadi, kalau bertanya pada pasar ngepop ini soal apa sih nikmatnya mengisap cerutu, jawabannya kira-kira: gaya itu nikmat, cuy!

(sumber : Harian Kompas, tgl 12 April 2008)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: