Andaikan Harga BBM (Tak) Naik

Sebuah ulasan yang menarik dari kompas hari ini.
Senin, 12 Mei 2008

Oleh Iman Sugema

Bagaimana kalau seandainya harga BBM tak naik? Barangkali sekarang itu merupakan pertanyaan yang cukup menggelikan karena pemerintah sudah memutuskan untuk menaikkan harga BBM. Tinggal menunggu kapan dan berapa besar kenaikannya.

Namun, justru itulah yang paling menggelisahkan masyarakat luas. Tahun 2005 harga BBM naik dua kali, yaitu awal Maret dan Oktober. Masih segar dalam ingatan kita mengenai keputusan pemerintah pada Oktober 2005 tentang kenaikan harga BBM yang rata-rata mencapai 128 persen. Padahal, beberapa minggu sebelumnya pemerintah menegaskan bahwa kenaikan harga BBM tak akan lebih dari 30 persen.

Sekarang pun pemerintah menjanjikan hal yang sama, yakni tak lebih dari 30 persen. Bahkan, lebih hebat lagi, beberapa waktu yang lalu pemerintah pernah berjanji untuk tak menaikkan harga BBM. Akankah kejadian yang sama dengan tahun 2005 terulang kembali?

Masih segar dalam ingatan kita bahwa tiga tahun yang lalu pemerintah akan menempuh langkah-langkah agar kita tak usah menaikkan harga BBM lagi. Langkah tersebut, antara lain, adalah upaya peningkatan produksi minyak, penghematan energi, serta pengalihan penggunaan energi ke jenis energi alternatif yang lebih murah. Selain itu, katanya pemerintah akan membangun puluhan pembangkit tenaga listrik berbahan bakar batu bara dan menggunakan energi alamiah, seperti angin dan ombak.

Republik wacana

Kini setelah tiga tahun apa yang telah dicapai? Penghematan energi kembali menjadi sebuah imbauan kosong. Produksi minyak bukannya naik, malahan turun menjadi hanya 927.000 barrel per hari. Konversi ke batu bara gagal total. Konversi ke gas tidak berjalan mulus. Pembangunan pembangkit listrik tersendat oleh perebutan kue. Program energi alternatif seperti biofuel, angin, dan ombak ternyata hilang bersama angin.

Kalau seandainya langkah-langkah yang dijanjikan tersebut betul-betul terlaksana, hari ini kita tak usah lagi berdebat mengenai perlu tidaknya harga BBM dinaikkan. Penghematan dan konversi akan memastikan bahwa konsumsi BBM turun, yang pada gilirannya menurunkan volume BBM yang harus disubsidi. Biaya produksi listrik juga menjadi bisa lebih hemat sehingga nilai subsidinya menjadi berkurang.

Penambahan produksi akan mengakibatkan kantong pemerintah bertambah gemuk. Singkatnya, langkah-langkah tersebut di satu pihak seharusnya mampu menurunkan beban subsidi dan di lain pihak seharusnya mampu meningkatkan penerimaan negara. APBN menjadi aman walaupun kelak harga minyak menembus 150 dollar AS per barrel.

Seharusnya tiga tahun adalah waktu yang cukup untuk melakukan itu semua. Namun, apa lacur, ternyata republik ini tak lebih dari republik wacana. Rencana bagus, tetapi tak pernah dilaksanakan.

Kini nasi telah menjadi bubur dan kita hanya bisa meratapi kenapa semua ini terjadi. Setelah pemerintah memutuskan kenaikan harga BBM—entah berapa persen dan kapan—apakah yang harus dilakukan oleh bangsa ini?

Kontrak politik

Ada beberapa hal yang harus diingat dan dilaksanakan dengan segera.

Pertama, pemerintah harus menghitung secara cermat dampak sosial ekonomi dari kenaikan harga BBM. Berapa penduduk miskin akan bertambah dan di mana tempatnya. Seberapa jauh perekonomian akan terganggu dan di sektor apa saja. Kalau dampak negatifnya terlalu besar, mungkin sebaiknya pemerintah berpikir ulang.

Kedua, pemerintah kembali mengajukan untuk melaksanakan program kompensasi dalam bentuk bantuan langsung tunai (BLT). Namun, masalahnya adalah data base orang miskin yang digunakan adalah data base tahun 2005. Tentunya sudah terjadi banyak perubahan selama tiga tahun terakhir. Sebagian ada yang meninggal, pindah, tidak miskin lagi, dan ada pula keluarga miskin baru. Pengalaman pada waktu yang lalu menunjukkan bahwa penyaluran BLT secara serampangan hanya akan mengakibatkan kisruh sosial. Data base baru harus sudah tersedia sebelum harga BBM dinaikkan. Kita tidak lagi ingin mendengar pernyataan seorang menteri yang tak bertanggung jawab, yang menyatakan bahwa kita tidak lagi punya waktu untuk meng-update data base keluarga miskin.

Ketiga, langkah-langkah yang dulu pernah dijanjikan (seperti yang didiskusikan di atas) harus dituangkan dalam kontrak politik yang jelas, misalnya kapan dan berapa besar peningkatan produksi dapat tercapai. Kontrak politik juga harus memuat sanksi bagi menteri yang gagal mencapai target. Langkah ini penting agar pemerintah secara serius melakukan upaya-upaya riil dalam meningkatkan ketahanan energi dan anggaran. Jangan sampai ada pejabat tinggi negara, mulai presiden, wakil presiden, hingga menteri, yang terlalu sibuk mengurusi yayasan dan parpol dalam rangka ”menyukseskan” Pemilu 2009.

Keempat, penerimaan negara bisa dinaikkan dan biaya bisa diturunkan kalau pemerintah melakukan ”penertiban” di sektor migas. Bukan rahasia umum bahwa impor BBM melibatkan pemburu rente yang menggunakan tangan-tangan kekuasaan. Penghematan bisa juga dilakukan dengan mengikis habis praktik penggelembungan cost recovery dalam kontrak production sharing migas. Temuan BPK sudah ada dan tinggal ditindaklanjuti.

Kelima, adalah agak mengherankan mengapa kita tidak pernah mempertimbangkan untuk menerapkan peningkatan pajak ekspor di sektor migas. Dengan meningkatnya harga dunia, sudah pasti keuntungan perusahaan pertambangan menjadi bertambah gemuk. Kok, kita hanya berani menerapkan pajak ekspor ke komoditas pertanian? Padahal, potensi penerimaan pajak ekspor migas dan produk tambang lainnya jauh besar. Memang yang dibutuhkan adalah sebuah keberanian menghadapi perusahaan besar dan multinasional.

Saya yakin dengan berbagai langkah di atas, kelak kita tak usah mendiskusikan lagi perlu tidaknya menaikkan harga BBM. Republik ini sudah muntah dengan wacana. Sekarang adalah waktunya bekerja untuk rakyat. Bisakah?

Iman Sugema Ekonom Senior, InterCAFE, IPB

6 Responses

  1. Kabinet
    PKS Minta Presiden Tinjau Menteri ESDM
    Selasa, 13 Mei 2008 | 00:10 WIB

    Jakarta, Kompas – Presiden harus mengevaluasi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral atau ESDM, bahkan jika perlu melakukan penggantian. Pasalnya, Menteri ESDM dinilai tidak berhasil menyelesaikan persoalan bahan bakar minyak yang menjadi tanggung jawabnya.

    Hal ini disampaikan anggota Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mutammimul Ula di Jakarta, Senin (12/5).

    ”Kenaikan harga BBM adalah refleksi kegagalan kebijakan dan implementasi pengembangan sumber daya energi nasional. Kalau melihat potensi yang ada, harusnya kita mampu,” ujarnya.

    Menurut Mutammimul Ula, kegagalan ini menjadi faktor terpenting untuk menilai kinerja pemerintah. Pemerintah tampaknya tidak mau bersusah payah, bahkan hanya mengambil cara termudah untuk mengatasi kegagalan Menteri ESDM, yaitu dengan menaikkan harga BBM.

    ”Padahal, isu energi ini sudah muncul di domestik maupun dunia internasional, dengan segala tantangannya sejak lama, tetapi kok tidak dilakukan langkah antisipasi,” ujarnya.

    Mutammimul Ula menilai, Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro tidak mampu melakukan kebijakan signifikan untuk menangani karut-marutnya kebijakan dan penerapan energi nasional secara konsisten.

    ”Dan, sekali lagi kita menyaksikan, kegagalan ini harus ditanggung rakyat,” ujarnya.

    Juru bicara Komite Bangkit Indonesia, Adi Masardi, menilai, yang harus diturunkan mestinya bukan hanya menterinya, tetapi juga presiden yang mengemban amanat untuk menyejahterakan rakyat. ”Anehnya, pemerintah saat ini kok senangnya meneror rakyatnya sendiri dengan mengumumkan rencana kenaikan harga BBM,” ujarnya.

    ”Baru rencana saja sudah menaikkan harga-harga barang, apalagi ketika harga BBM naik, maka akan menjadi bom yang menyengsarakan rakyat,” lanjutnya.

    Padahal, menurut Adi, untuk menyelamatkan APBN tidak harus dilakukan dengan menarik subsidi harga BBM. Masih banyak langkah yang bisa dilakukan pemerintah.

    ”Pemerintah masih bisa melakukan penghematan dan efisiensi di Pertamina dan PLN. Apalagi, kita menyaksikan alokasi anggaran yang berlebihan untuk birokrasi. Kita masih melihat menteri yang dikawal 2-3 mobil, ini jelas tidak mencerminkan penghematan,” paparnya.

    Menurut Adi, pemerintah telah melakukan penyesatan jika subsidi BBM itu hanya untuk orang kaya.

    ”Apalagi, kita tahu jumlah subsidi BBM di APBN lebih kecil ketimbang dana untuk pembayaran rekap obligasi yang mencapai 30 persen APBN. Kebutuhan pemerintah saja mencapai 50 persen APBN. Jadi, penyelamatan APBN itu untuk siapa,” ujarnya. (MAM)

  2. Tulisan artikel di blog Anda bagus-bagus. Agar lebih bermanfaat lagi, Anda bisa lebih mempromosikan dan mempopulerkan artikel Anda di infoGue.com ke semua pembaca di seluruh Indonesia. Salam Blogger!
    http://www.infogue.com/
    http://politik.infogue.com/andaikan_harga_bbm_tak_naik

  3. bagus apanya, ini copas, semua orang bisa

  4. beberapa tulisan mengenai ekonomi diatas memang saya ambil dari beberapa sumber dan semuanya saya cantumkan sumbernya. Tulisan-tulisan tersebut merupakan kumpulan tulisan yang saya sangat bersesuaian dengan keadaan ekonomi bangsa kita saat ini. Jadi bentuknya seperti kliping atau kumpulan tulisan bertajuk ekonomi.
    Tujuannya agar bahasan ekonominya terfokus,karena kalau kita merujuk ke sumber yang asli (kompas, misalnya) berita tersebut sangat mudah hilang dan tidak terfokus karena banyak sekali berita-berita baru yang muncul.

  5. mantaps….

  6. Berikut ini analisis dan masukan dari pengamat perminyakan Indonesia, Kurtubi.

    Harga BBM dan Langkah Kedepan

    Pemerintah akhirnya menaikkan harga tiga jenis bahan bakar minyak bersubsidi (premium, solar, dan minyak tanah) masing-masing sebesar 33,3 persen, 27,9 persen, dan 25,0 persen per tanggal 24 Mei 2008.

    Banyak pihak telah menyarankan untuk melakukan berbagai langkah agar sejauh mungkin bisa menghindari kenaikan harga BBM. Soalnya, dampak dari kenaikan harga BBM sangat memberatkan rakyat yang pendapatannya tidak banyak meningkat.

    Saran-saran itu antara lain agar pemerintah berusaha menaikkan produksi minyak mentah dan meningkatkan efisiensi cost recovery. Efisiensi di Pertamina dan PLN termasuk perbaikan manajemen impor-ekspor minyak nasional, meninjau kembali standar penghitungan besaran subsidi (MOPS + alpha). Program diversifikasi energi yang sudah lama dicanangkan juga disarankan untuk dipercepat, termasuk mempercepat konversi minyak tanah ke elpiji, konversi premium ke bahan bakar gas di sektor angkutan, konversi BBM ke batu bara di sektor industri, pengembangan biofuel (BBN) berbasis nonpangan, serta optimalisasi pemanfaatan energi panas bumi.

    Di atas semua itu, harus juga diakui dengan jujur bahwa tidak mungkin bagi pemerintah untuk menunggu hasil dari semua saran dan langkah yang mesti diambil itu. Sebagian mungkin sudah dilakukan dan sebagian belum. Sementara itu, gejolak harga minyak dunia tidak kenal henti, terus terjadi. Bahkan, pada 22 Mei 2008 menembus 135 dollar AS per barrel. Rekor baru.

    Di tengah ini semua, lifting minyak relatif sangat rendah (hanya 924.000 barrel per hari) dibandingkan dengan kebutuhan minyak mentah untuk konsumsi dalam negeri (sekitar 1.4 juta barrel per hari). Ini berdampak langsung terhadap relatif rendahnya penerimaan minyak dibandingkan dengan besaran subsidi BBM dan defisit APBN.

    Kenaikan harga minyak yang sangat tinggi juga dikeluhkan oleh semua negara, kecuali negara pengekspor minyak, baik OPEC maupun non-OPEC. Negara-negara OPEC, terutama Arab Saudi, akan memperoleh windfall revenues sekitar 600 miliar dollar AS tahun 2008.

    Amerika Serikat, yang pendapatan per kapitanya 20 kali Indonesia, juga mengeluh meskipun sebenarnya sebagian besar perusahaan minyak yang memperoleh windfall profit dari kenaikan harga minyak ini juga adalah perusahaan AS.

    Pihak oposisi (kubu Demokrat) di parlemen, misalnya, saat ini dengan gencar ingin mengegolkan RUU yang memungkinkan Pemerintah AS dapat melakukan tuntutan terhadap anggota OPEC yang dinilai telah melanggar UU Antimonopoli AS.

    Sementara pihak pemerintah (kubu Republik) dengan gencar juga meminta Arab Saudi untuk menambah produksi agar harga bisa turun. Ternyata, meskipun Presiden Bush sudah dua kali berkunjung ke Riyadh dalam tiga bulan terakhir, Arab Saudi yang diyakini oleh AS masih punya spare capacity produksi sekitar 2,0 juta barrel per hari hanya bersedia menambah produksi sekitar 300.000 barrel per hari. Jumlah ini sangat tidak cukup untuk dapat menurunkan harga minyak dunia di mana tingkat konsumsi sudah mencapai 88 juta barrel per hari.

    Salahkan spekulan

    Sebaliknya, OPEC, khususnya Arab Saudi, tidak mau disalahkan. Mereka selalu menuding, pihak spekulan di Pasar Minyak Nymex-lah yang menyebabkan harga naik gila-gilaan.

    Dengan kata lain, pelemahan nilai dollar AS terhadap euro yang menjadi pendorong mengalirnya dana yang sangat besar ke pasar minyak akan tetap terjadi. Keadaan ini akan terus berlangsung di tengah kondisi fundamental pasar minyak yang akan tetap sangat ketat.

    Pasalnya, pertumbuhan konsumsi minyak tetap tinggi meski harga minyak sudah tinggi. Ini terjadi di negara-negara dengan laju pertumbuhan ekonomi dan jumlah penduduk yang besar (China dan India) dan juga di negara-negara kaya pengekspor minyak (Rusia, Timur Tengah, dan Brasil). Sementara tambahan supply sangatlah terbatas. Di Brasil dan Angola ditemukan cadangan minyak dalam jumlah besar di laut dalam, tetapi butuh waktu untuk bisa menambah produksi secara signifikan. Sementara konsumsi terus naik.

    Ke depan, harga minyak masih tetap cenderung akan terus naik. Harga minyak 200 dollar AS per barrel pada tahun 2009 bukanlah hal mustahil. Kondisi ini perlu diantisipasi tepat. Jangan sampai pemerintah hanya cekatan menyusun skenario berikut argumentasinya untuk menaikkan kembali harga BBM pascakenaikan 24 Mei 2008.

    Dalam jangka pendek adalah mempercepat produksi Blok Cepu, sementara untuk jangka menengah perlu segera memproduksikan lapangan gas raksasa di Natuna dengan tetap memerhatikan faktor keamanan dan lingkungan hidup mengingat kandungan CO2 yang sangat besar. Untuk ini, perlu segera menggandeng mitra yang sudah terbukti mampu secara teknologi dan pendanaan.

    Dalam jangka panjang, perlu perbaikan sistem dan regulasi perminyakan nasional agar investasi pencarian cadangan baru (eksplorasi) bisa kembali meningkat. Di sinilah letak kuncinya. Lifting dalam delapan tahun terakhir ini terus anjlok karena langkanya penemuan cadangan/lapangan baru. Ini sebagai akibat anjloknya kegiatan eksplorasi. Dengan demikian, dalam delapan tahun ini penurunan produksi tidak bisa dielakkan karena hanya mengandalkan lapangan yang sudah tua.

    Prospek penemuan cadangan/lapangan baru masih sangat besar. Pasalnya, sumber daya minyak di bumi Nusantara sekitar 80 miliar barrel dan gas sekitar 360 tcf.

    Perlu perbaikan dari kelemahan-kelemahan yang ada selama ini agar ekonomi nasional ke depan tidak tergilas oleh gelombang pukulan harga minyak yang akan menembus 200 dollar AS per barrel dalam waktu dekat. Semoga langkah antisipasi ke depan bisa lebih baik!

    Kurtubi Direktur Center for Petroleum and Energy Economics Studies (CPEES) dan Pengajar Program Pascasarjana FEUI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: