Currency Rate

1 USD = Rp. 11992,-

(update June 21st,2014)

5 Responses

  1. Senin, 27/10/2008 09:34 WIB
    Rupiah Makin Jeblok ke 10.300/US$
    Dadan Kuswaraharja – detikFinance

    Jakarta – Nilai tukar rupiah di perdagangan valas pukul 09.30 WIB menembus level Rp 10.300 atau melemah Rp 295. Nilai tukar rupiah jatuh karena sentimen global yang masih negatif karena pelemahan ekonomi.

    “Dolar dibanding mata global cenderung menguat, kalau dilihat sepintas lalu aktivitas bursa memang negatif,” ujar pengamat pasar uang Toni Mariano ketika dihubungi detikFinance, Senin (27/10/2008).

    Menurut Toni, ini terjadi karena aktifitas di Wall Street melemah, pelaku pasar memandang pesimistis dengan keadaan pasar dan mencoba kembali masuk ke pasar uang di AS sehingga akhirnya membuang rupiah.

    Pelemahan rupiah terjadi mulai Jumat 24 Oktober lalu, rupiah akhirnya menembus level keramat Rp 10.005 per dolar AS. Untuk menahan pelemahan rupiah tidak ada cara lain kecuali intervensi yang dilakukan oleh Bank Indonesia.

    Faktor pelemahan murni dari luar karena dari dalam negeri relatif tidak ada isu negatif yang bisa mempengaruhi pelemahan rupiah.

    “Tahun depan kondisinya akan sulit karena ekonomi yang mengalami pelemahan akan menurunkan ekspor akibat kurangnya permintaan,” ujarnya.(ddn/ir)

  2. Senin, 27/10/2008 12:15 WIB
    Sesi Siang
    Rupiah dan IHSG Terguncang
    Irna Gustia – detikFinance

    Jakarta – Pasar finansial dalam negeri kembali terguncang di awal pekan ini. Rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) makin tak berdaya dan berada di posisi terlemahnya.

    Pada perdagangan saham sesi I, Senin (27/10/2008) IHSG anjlok 82,456 poin (6,62%) menjadi 1.162,408. IHSG mengalami tekanan yang dalam karena faktor eksternal dari melemahnya busa saham di Asia.

    Sedangkan rupiah lebih parah lagi yang hingga perdagangan valas pukul 12.00 WIB turun tajam 595 poin ke posisi 10.600 per dolar AS. Rupiah terus terpukul di level rendah karena penarikan investasi oleh asing sulit dicegah.

    Pengamat pasar uang Toni Mariano ketika dihubungi detikFinance, Senin (27/10/2008) mengatakan untuk menahan pelemahan rupiah tidak ada cara lain kecuali intervensi yang dilakukan oleh Bank Indonesia.

    Pelaku pasar, kata Toni, memandang pesimistis dengan keadaan pasar dan mencoba kembali masuk ke pasar uang di AS sehingga akhirnya membuang rupiah.

    BI diketahui sudah melakukan intervensi maskimal namun dolar AS tetap saja bergerak liar yang memukul hampir sebagian besar mata uang Asia.

    Sementara bursa saham Asia lainnya juga berantakan pada sesi siang ini seperti Hang Seng turun 4,22%, Seoul turun 3,84%, KOSPI turun 3,24%, Nikkei turun lebih dari 5%, Taiwan turun 5,68%. Sementara Bursa Filipina yang sempat disuspensi, akhirnya ditutup merosot 12,3%.

    Perdagangan saham sesi siang mencatat transaksi sebanyak 12.527 kali, dengan volume 672 juta saham, senilai Rp 522 miliar. Hanya 5 saham yang naik, 149 saham turun dan 20 saham stagnan.

    Saham-saham yang anjlok harganya antara lain, Telkom (TLKM) turun Rp 550 menjadi Rp 5.350, Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) turun Rp 450 menjadi Rp 4.150, Aneka Tambang (ANTM) turun Rp 90 menjadi Rp 850, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) turun Rp 325 menjadi Rp 2.950 dan Perusahaan Gas Negara (PGAS) turun Rp 130 menjadi Rp 1.220.

    Bursa saham di Asia turun dalam karena pasar finansial yang terus dihantui sentimen resesi ekonomi yang kini tidak hanya terjadi di AS dan Eropa namun juga mulai menjalar ke Asia.

    Bursa saham Filipina bahkan ditutup pada 30 menit perdagangan sesi satu karena kejatuhannya yang mencapai 10 persen.

  3. Selasa, 28/10/2008 12:16 WIB
    Sesi Siang
    Rupiah dan IHSG Masih Terluka
    Irna Gustia – detikFinance

    Jakarta – Rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terluka karena tertebas penurunan yang tajam akibat buruknya pasar finansial global saat ini. Namun pelemahannya sudah mulai berkurang.

    Pada penutupan perdagangan saham sesi I, Selasa (28/10/2008) IHSG kembali merosot hingga 55,374 poin (4,75%) ke posisi 1.111,035 yang terendah sejak akhir 2005. Pada pembukaan perdagangan pagi IHSG sempat melemah hingga 70 poin lebih.

    Sedangkan rupiah pada perdagangan pukul 12.00 WIB, berdasarkan data CNBC melemah 251 poin ke posisi 11.000 per dolar AS.

    Rupiah sempat melemah hingga 1.101 poin ke posisi 11.850 per dolar AS, namun pelemahannya berkurang karena sejumlah bursa saham Asia mulai rebound.

    Perdagangan saham sesi siang mencatat transaksi sebanyak 22.833 kali, dengan volume 9,167 miliar unit saham, senilai Rp 1,637 triliun. Sebanyak 24 saham naik, 126 saham turun dan 28 saham stagnan.

    Saham-saham yang turun harganya antara lain, Telkom (TLKM) turun Rp 250 menjadi Rp 5.100, Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) turun Rp 200 menjadi Rp 3.950, Indosat (ISAT) turun Rp 150 menjadi Rp 4.850, Bank Mandiri (BMRI) turun Rp 110 menjadi Rp 1.230, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) turun Rp 275 menjadi Rp 2.675 dan Bank Central Asia (BBCA) turun Rp 200 menjadi Rp 2.000.

    Di tengah penurunan harga saham, beberapa emiten sudah mengalami kenaikan harga seperti Aneka Tambang (ANTM) naik Rp 40 menjadi Rp 890, Timah (TINS) naik Rp 40 menjadi Rp 950 dan International Nickel Indonesia (INCO) naik Rp 110 menjadi Rp 1.290.

    Sementara bursa saham Asia pada sesi siang ini mulai rebound seperti Hang Seng naik 6,13%, KOSPI naik 5,81%, Nikkei naik 2,6%, Taiwan naik 0,78%. Sedangkan bursa saham Singapura atau STI masih turun 5,98% dan Shanghai turun 2,87%.

    Direktur Pencatatan Bursa Efek Indonesia (BEI), Eddy Sugito mengatakan kejatuhan seluruh indeks bursa global merupakan fenomena yang memiliki kaitan erat dengan perlambatan ekonomi dunia yang diperkirakan bisa menuju resesi global kedua.

    “Untuk itu perlu strategi khusus dalam menghadapi masalah ini, karena ini sifatnya global. Ibarat kata, ombak kita hadang dengan melawan ombak pasti tergulung juga. Kita cari aman saja lah dipinggir pantai,” ujar Eddy disela-sela RUPSLB BEI di hotel Dharmawangsa, Jl Brawijaya, Jakarta, Selasa (28/10/2008). .

    Salah satu strategi yang dilakukan BEI dalam menghadapi kejatuhan bursa global adalah merevisi batas penolakan otomatis (auto rejection) menjadi sebe

  4. JAKARTA, KAMIS — Rupiah, Kamis (6/11) pagi, merosot dan kembali menembus angka Rp 11.000. Pelaku masih khawatir gejolak krisis keuangan yang tak menentu sehingga mereka tetap membeli dollar AS. Rupiah berada di posisi Rp 11.050 per dollar AS.

    “Kekhawatiran pelaku pasar itu mendorong mereka membeli dolar AS sehingga mata uang asing itu kembali menembus level Rp 11.000 per dolar AS,” kata analis valas PT Bank Himpunan Saudara Tbk, Rully Nova, di Jakarta, Kamis.

    Rully mengatakan, tekanan pasar terhadap rupiah masih tinggi. Apalagi, pelaku pasar cenderung lebih suka memegang dollar AS ketimbang rupiah. “Namun, tekanan pasar itu kemungkinan akan mereda apabila Bank Indonesia (BI) kembali masuk pasar melepas cadangan dollarnya,” katanya.

    Kenaikan dollar AS itu berkaitan dengan terpilihnya presiden baru AS, Barack Obama, yang diharapkan akan membawa perubahan, terutama di bidang ekonomi yang saat ini agak terpuruk.

    Apabila Obama berhasil mengubah ekonomi AS ke arah yang lebih positif, katanya, pertumbuhan ekonomi dunia juga akan membaik. “Kita lihat saja apakah Obama akan melakukan perubahan agar ekonomi tumbuh lebih baik,” ujarnya.

    Sementara itu, dollar AS bertahan di kisaran sempit pada Rabu waktu setempat karena pasar finansial berputar setelah kemenangan Barack Obama dalam Pemilihan Presiden AS dan jelang perkiraan penurunan suku bungan oleh Bank Sentral Eropa (ECB).

    Euro melemah menjadi 1,2962 dollar dari 1,2975 dollar, yen turun terhadap dollar AS menjadi 98,33 yen dari 99,69 yen. Kenaikan dollar akan membantu menarik banyak modal yang diperlukan dari luar negeri. Para investor juga sedang menunggu sebuah penurunan suku bunga oleh ECB dan Bank Sentral Inggris.

  5. Selasa, 18/11/2008 10:28 WIB
    Rupiah ke 12.000/US$ Terendah dalam 7 Tahun
    Irna Gustia – detikFinance

    Jakarta – Kekhawatiran akan resesi global membuat rupiah mengalami tekanan yang besar dari faktor eksternal. Rupiah akhirnya menyentuh ke level 12.000 per dolar AS terendah sejak April 2001, sedangkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok tajam.

    Pada perdagangan valas pukul 10.15 WIB, Selasa (18/11/2008) rupiah melemah hingga 160 poin ke posisi 12.050 per dolar AS.

    Sedangkan IHSG pada perdagangan sesi I, pukul 10.15 WIB, melemah hingga 54,690 poin (4,42%) menjadi 1.182,243. Pelemahan rupiah dan anjloknya saham grup Bakrie memukul IHSG.

    Pelemahan rupiah terutama dipicu oleh aksi korporasi yang terus membeli dolar AS untuk kebutuhan akhir tahunnya. Perdagangan valas sendiri relatif tipis dan pelaku pasar mulai cemas atas sikap pasrah BI yang melihat pelemahan rupiah sebagai gejala eksternal.

    Rupiah cenderung melemah hingga akhir tahun karena ketatnya likuiditas pasar yang membuat keseimbangan baru rupiah terhadap dolar AS bergeser.(ir/qom)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: